Ucapan Ahok mengenai Al-Maidah ayat 51 memicu kontroversi luas. Diskusi tentang ucapan Ahok itu ditarik ke berbagai perspektif, mulai dari politik, etika, tafsir, hingga agama.

Belakangan, orang juga ramai membicarakan ucapan Ahok itu dari perspektif bahasa. Di media sosial, banyak sekali orang yang mendadak jadi ahli bahasa. Mereka menganalisis ucapan Ahok sesuai kapasitasnya.

Sebagian analisis itu memadai karena memang disampaikan tokoh yang kompeten pada bidang bahasa. Tapi, sayangnya, lebih banyak analisis justru picik karena ditafsirkan sesuai kepentingannya. Tipe “analisis” ini menganalisis sesuai kepentingannya, tanpa bekal ilmu kebahasaan yang memadai.

Nah, supaya terhindar dari analisis asal-asalan, ada sejumlah referensi yang bisa dipakai sebagai rujukan. Buku-buku ini secara spesifik mengulas tentang bahasa.

Politik Bahasa Penguasa (Fathur Rokhman dan Surahmat)

15033837_10207477291030217_1382644308_n

Inilah salah satu buku yang paling relevan untuk memahami bahasa politik dan politik bahasa. Bahasa politik berarti bahasa yang digunakan dalam arena politik, adapun politik bahasa berarti motif kepentingan yang muncul pada setiap penggunaan bahasa.

Bukan hanya mengulas bahasa politik, pada bab 9 penulis mengulas secara spesifik tentang bahasa agama. Ada tiga persoalan yang mendapat penekanan, yaitu penggunaan terminology “kafir”, “jihad”, dan “auliya”. Tiga istilah itulah yang selama ini paling produktif disalahpahami dan memicu konflik.

Memahami Bahasa Agama (Komarudin Hidayat)

15033809_10207477291270223_843054713_n

Penulis buku ini adalah intelektual Muslim yang pemikirannnya cukup berperngaruh. Prof Komarudin juga pernah menjadi Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai pemikir keagamaan, kapasitasnya sama dengan seniornya Azumardi Azra.

Dalam buku ini Komarudin mengulas dengan mendalam karakteristik bahasa agama. Salah satu pokok pikirannya adalah: bahasa agama adalah bahasa Tuhan. Untuk memahami bahasa agama, manusia tidak hanya memerlukan pengetahuan kebahasaan, tetapi juga kesucian hati.

Bahasa Masyarakat dan Kekuasaan (Linda Thomas dan Shan Wareing)

15032527_10207477291230222_940204347_n

Konflik akibat penggunaan bahasa ternyata terjadi di berbagai negara, tidak hanya di Indonesia. Konflik berkepenjangan antara Inggris dan Irlandia Utara, misalnya, juga terekspresikan melalui bahasa. Permusuhan antara Katolik dan Kristen di Eropa beberapa waktu lalu, antara lain, juga disebabkan oleh bahasa.

Secara teoretik kedua penulis ini berhasil menguraikan kinerja bahasa, baik sebagai pelumas sosial maupun sebagai sumbe konflik.

Bahasa Negara Versus Bahasa Mahasiswa  (Muridan S. Widjojo)

15050339_10207477291190221_1592174840_n

Buku yang diterbitkan LIPI Press ini adalah hasil penelitian penulisnya. Sebagai hasil penelitian, kajian dalam merupakan kombinasi antara ulasan teori dengan tafsir terhadap data.

Penulis menganalisis stategi Orde Baru memberdayakan bahasa untuk mengukuhkan kekuasaannya. Orde Baru, antara lain, memberdayakan wacana anti-Pancasila, komunis, pembangunan, hingga penyebutan Malari dan sebaginya.

Penulis juga cermat menguraikan strategi mahasiswa menggunakan bahasa sebagai sarana perlawanan. Perlawanan mahasiswa tidak hanya dilakukan di jalanan melaluo demonstrasi. Perlawanan bahasa, kadang-kadang, justru berdampak lebih besar.,